Momentum

Didalam menjalani kehidupannya, manusia senantiasa dihadapkan dengan beraneka ragam permasalahan. Sebuah permasalahan tentunya membutuhkan sebuah solusi/pemecahan permasalahan. Dalam menerapkan sebuah solusi, adakalanya kita harus mempertimbangkan aspek-aspek lain, atau mungkin harus menunggu kondisi yang tepat. Kata kondisi yang tepat ini bisa bermakna sangat subyektif.

Apabila kita menonton sebuah film peperangan, entah itu bentuknya film kolosal ataukah sudah zaman modern. Bisa dipastikan ada adegan, dimana sang komandan menunggu saat-saat yang tepat, sebelum sebuah serangan dilancarkan. Pertanyaan pertama, yang hinggap dibenak saya adalah, “apa yang ia tunggu ???”. Pertanyaan itu terjawab, ketika saya menonton film “The Last Samurai”. Singkat cerita, pada waktu itu ketika sang komandan meminta pasukannya menunggu dan tidak langsung menembakkan senapannya, akan tetapi ada anak buah yang terlihat sangat gugup dan panik, sehingga tanpa sengaja dia menembakkan senapannya sebelum ada aba-aba dari sang komandan. Mendengar adanya suara tembakan, maka pasukan yang lainpun ikut menembakkan senapannya. Alhasil, pasukan tersebut kalah perang dan berhasil ditaklukkan oleh pasukan samurai yang hanya menggunakan pedang.

Sebuah perbedaan yang sangat tipis antara kemenangan dan kekalahan, hanya berbeda beberapa menit saja. Pertanyaannya, ada apa sih.., diwaktu sekian menit tersebut? Momentum, itulah jawabannya. Suatu kondisi, yang dapat memberikan titik balik didalam suatu/rangkaian peristiwa. Mungkin kita pernah mendengar suatu ungkapan dari seseorang, jika ia sedang menunggu saat yang tepat. “Saat yang tepat”, kata-kata tersebut tentunya bersifat sangat subyektif. Diluar kesubyektifannya, sebenarnya apa sih saat yang tepat tersebut. Tidak lain dan tidak bukan, itu adalah sebuah momentum.

Dari tadi kita berbicara momentum, momentum, dan momentum. Sebenarnya apa sih momentum itu? Pada kesempatan kali ini, izinkan saya untuk mencoba menelaah, apa sih momentum itu? Menurut pandangan saya, momentum pada dasarnya adalah sebuah kondisi/keadaan. Sebuah kondisi sudah barang tentu memiliki variabel-variabel yang bermain didalamnya. Perbedaan antara momentum dan kondisi lain pada umumnya adalah terletak pada sifat dari variabel-variabel tersebut.

Sebagai gambaran, tentunya disekolah kita pernah mempelajari mata pelajaran yang diberi nama “MATEMATIKA”. Sebuah kata yang bagi sebagian orang terdengar sangat mengerikan, termasuk saya pribadi. :P
Didalam pelajaran tersebut kita tentu sudah pernah menggambar yang namanya kurva parabola. Didalam kurva parabola tersebut, kita mengenal adanya titik balik maksimum dan titik balik minimum, alias puncak kurva atau lembah kurva. Dimana setelah melewati kondisi tersebut, garis kurva mulai berubah, yang tadinya naik menjadi turun, dan sebaliknya, yang tadinya turun menjadi naik. Apa yang membedakan titik balik tersebut, dengan titik-titik lainnya? Sudah barang tentu sifat yang dimiliki oleh variabel-variabel yang menyusun kurva tersebut. Begitu pula yang namanya MOMENTUM.

Momentum merupakan suatu kondisi yang dapat menimbulkan titik balik didalam rangkaian kehidupan yang kita lalui. Sebuah kondisi dapat dikatakan sebuah momentum jika kondisi tersebut mampu membuat kita melakukan suatu hal yang menimbulkan perubahan didalam kehidupan kita selanjutnya. Kita mengenal momentum tersebut sebagai sebuah kesempatan. Walaupun begitu ada satu hal yang perlu diingat, didalam matematik kita mengenal adanya titik balik maksimum dan titik balik minimum. Hal ini berpengaruh pada bentuk garis kurva, yang tadinya naik menjadi turun dan yang tadinya turun menjadi naik. Artinya, momentum tersebut dapat memerikan efek yang positif dan negatif, tergantung dari cara kita menjalaninya.

So.., jujurlah pada diri sendiri. Tetap semangat dan jangan menyerah.

Download

Daun Seledri

karya : Anan Fauzi

Aroma mewangi
Irisan mini
Daun seledri

Mantapkan rasa
Bangkitkan selera
Sensasi beda

Taburan seledri
Rasa Pasti
Menancap di hati

Karena ia
Bagian tak bernama
Cerahkan suasana

Tanpa seledri
Makanan ini
Terasa sepi

Menunggu…

Menunggu, adalah sebuah pekerjaan yang paling membosankan. Apa yang kita lakukan? By the Way, kita tidak melakukan apa-apa. Cuman menunggu, menunggu, dan menunggu.

Tanpa kita sadari, banyak hal yang dapat kita lakukan selama proses “menunggu”. Seperti berdzikir, yup berdzikir. Jika dipikir-pikir, sebagai seorang muslim, berdzikir adalah amalan yang paling mudah dilakukan. Dapat dilakukan anyone, anytime, dan anywhere. Nggak banyak syarat, disamping itu Alloh menjanjikan pahala yang besar bagi orang-orang yang mau berdzikir dan mengagungkan-Nya.

Selama proses menunggu, kadang kala kita melakukan hal-hal yang notabene kurang bermanfaat, atau mungkin dapat dikatakan “buang-buang waktu”. Saya pribadi bila berada dalam sebuah kondisi yang diharuskan menunggu. Hal yang saya lakukan adalah melakukan sesuatu supaya waktu cepat berlalu, sehingga tidak perlu lagi menunggu lama-lama.

Padahal, jika kita renungkan lebih dalam lagi, yang namanya waktu akan terus berlalu, dan tidak akan pernah kembali lagi. Semua proses yang berkaitan dengan waktu selain ada permulaan, ada juga akhir dari suatu proses. Termasuk proses menunggu yang kita lakukan, semua itu pasti ada akhirnya.

Alangkah naifnya diri kita, jika kita berfikir kita dapat melakukan sesuatu, supaya waktu cepat berlalu. Padahal yang namanya waktu akan terus melaju. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika didalam proses menunggu kita dapat melakukan sesuatu yang memberikan manfaat bagi kita sendiri, terlebih lagi jika mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

Sebelum kita melakukan banyak hal, kita dapat memulainya dengan sebuah amalan yang cukup mudah yaitu berdzikir. Selain memberikan pahala, berdzikir juga mampu mendekatkan diri kita kepada Dzat Pencipta Alam Semesta. Jangan pernah sia-siakan waktu kita yang berharga ini.

Pendidikan Teknologi

Latar belakang penulisan ini dikarenakan, saya lg Bete dan kesal, menunggu giliran online di warnet. Maklum, saat ini saya sedang bertugas didaerah yang cukup terpencil. v(^_^)

Bukan masalah ngantri-nya yang bikin bete, tapi saya harus menunggu sekelompok anak SD (masih berseragam) yang sedang bermain game online. Yupz, ternyata biarpun di kampuang,  anak-anak disini melek teknologi juga ya…

Sambil memperhatikan mereka bermain, terbesit sebuah pemikiran. “kayaknya, ada yang salah deh…”, bila saya perhatikan lebih lanjut, ternyata sebagaian besar pelanggan di warnet itu sebagian besar anak-anak. Dan mereka semua, keasyikan bermain game online.

Menurut saya, ini adalah sebuah tanda-tanda kurang baik dari kehadiran teknologi di tengah-tengah masyarakat. Setelah saya renungi sejenak, mungkin selama ini kita terjebak didalam pembelajaran teknologi. Artinya, kita selama ini terjebak tentang bagaimana cara memanfaatkan dan memakai teknologi. Sebagai sebuah bangsa, kita ini sepertinya lupa mengenai hakikat teknologi sebenarnya.

Sehingga, pemanfaatan yang dilakukan sering sekali melenceng, bahkan menjurus ke hal-hal negatif. Satu pertanyaan besar, What must, We Do…?

Hidup adalah sebuah pilihan

Sepanjang perjalanan hidup yang telah kita lalui, tanpa kita sadari, sesungguhnya kehidupan yang kita jalani ini merupakan sebuah konsekuensi, dari pilihan kehidupan kita dimasa lalu. Mungkin bagi rekan-rekan yang notabene masih berstatus mahasiswa, menjalani kehidupannya sebagai mahasiswa, sebagai konsekuensi pilihannya menjadi seorang mahasiswa. Terlepas apakah pilihan yang kita ambil itu berdasarkan keinginan kita sendiri, maupun adanya desakan dari pihak lain. Yang jelas, kita telah memilih.

Terkadang kita berfikir, apabila kita memilih sebuah jalan kehidupan. Dimana jalan yang kita pilih itu tidak sesuai dengan hati nurani kita, maka akan timbul banyak masalah. Sebelum melangkah lebih jauh lagi, marilah kita berfikir sejenak.  Masalah, pernahkah kita terfikir, apa itu masalah?

Masalah demi masalah selalu datang silih berganti, tapi masalah itu sendiri apa sih? Menurut saya pribadi, masalah itu adalah suatu persoalan yang kita hadapi,  saat hendak mencapai sebuah tujuan tertentu. Berdasarkan definisi yang saya buat sendiri terdapat dua kata kunci yaitu, persoalan dan tujuan.

Jadi, kesimpulannya masalah itu bukan datang karena pilihan hidup kita, yang tidak sesuai dengan hati nurani kita. Masalah timbul karena kita mempunyai tujuan dalam memilih pilihan hidup kita. Apakah itu sesuai dengan hati nurani, maupun hanya sekedar menyenangkan pihak-pihak tertentu. Yang jelas, ada tujuan.

Ada dua hal yang perlu kita perhatikan, menyangkut faktor penyebab timbulnya masalah yaitu, faktor internal diri dan faktor eksternal diri. Faktor internal diri adalah, faktor penyebab masalah yang terdapat didalaml diri kita seperti, rasa malas, keengganan untuk melakukan sesuatu, rasa tidak suka, dll. Faktor eksternal diri adalah, faktor penyebab masalah diluar diri kita seperti, kecelakaan, musibah, keterlambatan kawan, dll. Walaupun begitu, terkadang walaupun masalah kita berasal dari faktor eksternal, terkadang faktor eksternal itu dipicu oleh faktor internal diri kita.  Sebagai contoh,

“seorang mahasiswa mempunyai janji dengan kawannya untuk bertemu dengan dosen, akan tetapi kawan mahasiswa tersebut datang terlambat, sehingga tidak jadi bertemu dosen. Selidik punya selidik, ternyata kawan mahasiswa tersebut sakit hati oleh guyonannya. Sang mahasiswa tersebut memang dikenal sering bercanda yang kadangkala keterlaluan, iapun memiliki sikap cuek luar biasa. “

Kita tidak dapat menghindarkan diri dari berbuat kesalahan, yang dapat kita lakukan adalah mengendalikan diri kita untuk meminimalisir kesalahan yang kita buat. Selain itu, apabila kita sudah terlanjur membuat sebuah kesalahan. Hal yang harus dilakukan adalah, bagaimana cara memperbaiki kesalahan yang kita buat? Sekali lagi itu adalah pilihan kita sendiri.

Dalam menjalani sebuah pilihan, hasil yang kita dapatkan bukan ditentukan dari bagaimana cara kita memulai sebuah pilihan. Tetapi, bagaimana cara kita mengakhiri sebuah pilihan.

Sekian dulu ya…, Thank’s  (^_^)

ARTI HIDUP

Hidup adalah perjuangan, hidup adalah perbuatan, hidup adalah anugerah, hidup adalah pilihan.

Banyak orang yang mengartikan hidup ini dengan berbagai macam perumpamaan. Terkadang kita jadi bingung, mana yang paling benar? Menurut saya pribadi ini bukan masalah benar atau salah, karena apapun ungkapan seseorang tentang arti hidup, semua itu dilatarbelakangi oleh perjalanan hidup yang telah dilaluinya. Baik itu negatif maupun positif.

Tidak sedikit sesorang yang memandang hidup itu dari sisi negatif. Sebagai contoh, adanya anggapan bahwa hidup itu kejam, kita harus kejam agar dapat bertahan hidup. Apakah itu salah? Menurut saya hal seperti itu adalah wajar adanya, kita tidak dapat menyalahkan seseorang yang memiliki pandangan seperti itu. Sayapun pernah memiliki pandangan seperti itu.

Mungkin, rekan-rekan sekalian berpendapat, bahwa saya dapat memaklumi hal tersebut karena saya termasuk kedalam kelompok orang-orang seperti itu (berpandangan hidup secara negatif). Mungkin perlu saya akui, “ya” saya pernah tergolong orang-orang seperti itu, atau mungkin sekarang masih tergolong seperti itu.

Terlepas dari itu semua, ada satu hal yang menurut saya sangat mendasar. Yaitu, ungkapan seseorang tentang hidup dan kehidupan, semua itu dilatarbelakangi oleh perjalanan hidup yang telah ditempuh orang itu. Sengaja saya cetak tebal, karena menurut saya hal inilah yang paling mendasar, mengapa seseorang memiliki pandangan tertentu tentang hidup.

Oleh karena itu, berdasarkan perjalanan hidup yang telah saya lalui, saya juga memiliki pandangan tersendiri tentang arti hidup ini. Menurut saya, hidup itu adalah pilihan. Apapun hal yang kita alami saat ini, semua itu adalah hasil dari pilihan yang kita lakukan. Baik atau buruknya diri kita, semua itu merupakan pilihan kita sendiri.

Tanpa memperdulikan latar belakang seseorang, apakah orang kaya, orang miskin, berandalan, guru ngaji, pejabat, buruh, presiden, rakyat jelata, laki-laki, perempuan. Baik atau buruknya seseorang, orang itu sendiri yang menentukan.

Terkadang kita berfikir, bahwa pilihan hidup yang kita jalani itu ditentukan oleh kita diawal sebuah kehidupan. “Ah… saya mau jadi presiden.”, “Ah… saya mau jadi dokter.”, dan pilihan-pilihan lain. Tidak ada salahnya kita berfikir seperti itu, berarti hidup ini tidak adil dong bagi orang-orang dengan latar belakang “kurang” dari pada yang lain. Terus, dimana keadilan Tuhan?

Semua pandangan itu terjadi, bila kita memandang pilihan hidup kita itu ditentukan diawal. Menurut saya justru sebaliknya, pilihan hidup kita yang paling menentukan itu adalah, bagaimana cara kita mengakhirinya? Apabila kita ingin berakhir baik, apa yang harus kita lakukan? Apabila tidak ingin berakhir buruk, apa yang harus kita hindari?

That’s true, menurut saya pandangan hidup seperti ini lebih adil. Karena apapun latarbelakang seseorang, apabila ia ingin hidupnya berakhir dengan baik, ia harus mengusahakan agar hidupnya berakhir baik. Disitulah letak keadilan Tuhan, bahwa Tuhan akan memberikan ganjara yang setimpal terhadap usaha yang telah dilakukan oleh hambaNya.

Kesimpulan kali ini adalah, hidup itu adalah sebuah pilihan. Sebagai manusia kita punya dua pilihan, yaitu;

Bagaimana cara memulai kehidupan?

Dan, bagaimana cara mengakhirinya?

semua itu tergantung terhadap orang itu sendiri. Dan Tuhan bertindak sebagai hakim yang paling adil, terhadap pilihan yang telah kita tentukan.

Tetap semangat dan optimis didalam menjalani hidup ini, jangan pernah berputus asa. Percayalah jika maksud kita baik, Tuhan akan selalu bersama kita.


 

January 2012
M T W T F S S
« Jan    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.